Betapa Lucunya Negeri Ini (Edisi Pendidikan) Part I "Tak Pasnya sistem pendidikan di Indonesia"

IZZULHAQ.COM Setibanya saya dirumah setelah perjalanan pulang dari salah satu tempat lembaga bimbingan belajar di Surabaya, saya melepas lelah, tidur sejenak melupakan kepenatan rutinitas yang terlalu berat djalani dan bisa dikatakan hampir tidak berguna dimasa mendatang, hanya ada proyek proyek penggerus isi dompet, kegiatan kegiatan yang terorientasi pada dua digit angka, dan masih banyak lagi hal hal yang tak berguna lainnya yang harus dilakukan seseorang dengan umur sekitar 6 sampai 18 tahunan.

Pembaca pasti penasaran apa yang menyebabkan saya dan orang orang yang seumuran melakukan kegiatan hal hal yg tak berguna tersebut ? Mengapa saya tetap melakukannya padahal itu tak berguna ?. Perlu diketahui bersama bahwa yang menyebabkan kami mengeruk kantong dalam dalam, melakukan hal hal yang tak berguna, menghalalkan segala cara demi dua digit angka, mengikis kreatifitas kami sendiri.......... adalah Sistem Pendidikan Indonesia.


Oke, mungkin banyak pembaca pula yang menolak dan berdalih bahwa pendidikan adalah hal yang paling penting dari hal penting lainnya, saya setuju dengan hal itu, namun Sistem Pendidikan Indonesia Saat ini belum bisa melakukan hal yang diinginkan oleh generasi yang lalu, yang dinginkan oleh masyarakat luas, yang diinginkan oleh dunia. Dalam Sistem Pendidikan Indonesia (Selanjutnya akan saya singkat menjadi “SPI”) siswa dituntut untuk memperoleh nilai baik untuk dapat dinyatakan lulus. Dan semua aspek pembelajaran dinyatakan dengan hanya dua bahkan satu digit nilai. Dan dituntut untuk menguasai hampir semua ilmu 14 bidang studi (34 untuk yang di pondok pesantren) tapi cuma setengah setengah, hal ini tidaklah efektif jika dibandingkan dengan siswa belajar hanya 5 bidang studi namun siswa dapat mempelajari ilmu yang “hanya” 5 subjek itu hingga ke akar akarnya.

Bayangkan saja, dalam setengah semester (sekitar 2 – 3 bulan) siswa dituntut untuk menguasai rata rata 4 bab dalam setiap subjek yang dimana subjek yang dipelajari (oleh anak SMA) adalah 14 subjek, dan jika dihitung maka dapat disimpulkan bahwa siswa dituntut untuk menguasai 56 BAB, WOW LUAR BIASA, saya tidak menyangkanya selama lebih dari satu tahun hingga saat artikel ini ditulis. Dengan materi yang terlalu banyak itu, siswa menjadi tidak terfokus dan terhalang jalan berpikirnya. Coba bandingkan antara Sistem pendidikan yang mewajibkan siswanya mempelajari 5 sampai 7 pelajaran setiap harinya (5 – 7 S/H) dengan yang hanya 1 pelajaran perharinya (1 S/H). Pada sistem pendidikan yang mewajibkan pelajarnya mempelajari 7 subjek perhari, siswa tidak dapat selalu fokus pada satu pelajaran dalam satu hari, sedangkan pada sistem pendidikan 1 pelajaran per hari, siswa dapat mempelajari dan fokus menekuni satu pelajaran dengan leluasa sampai puas dan sampai klenger :). dan masih banyak lagi kekurangan yang ditemukan pada sistem pendidikan 6 subjek perhari dibandingkan dengan sistem pendidikan 1 subjek perhari, anda dapat menemukannya sendiri saking banyaknya.

Dalam sistem pendidikan Indonesia, siswa seperti dipaksa untuk menyiksa dirinya sendiri, makanya jangan heran kalau banyak  remaja yang bunuh diri karena stress. Dalam sebuah pekan ujian, tidaklah mungkin seorang siswa dapat menguasai seluruh pelajaran dengan predikat sempurna A kecuali dengan jalan “Sogok”, SKS (Sistem kebut semalam) yang memiliki banyak sekali kekurangan, Menggunakan “Teknik Byakugan”, atau membuat suatu catatan kecil yang dibawa saat ujian yang memiliki bahasa keren “Krepek”.Hmmm, tak kuatlah saya membayangkannya lagi.

Maka janganlah heran jika banyak sekali penyakit sosial seperti mencontek, curang, DLL. Karena memang sistem pendidikan Indonesia secara tidak langsung menanamkan penyakit penyakit tersebut. Pemerintah berusaha untuk mengurangi tingkat penyakit sosial, padahal pemerintah sendirilah yang menjadi sumbernya. Pemerintah menginginkan perubahan mental, namun pemerinyah justru menekan anggaran pendidikan dengan alasan penghematan. Banyak sekali Mahasiswa yang sangat kecewa dengan dicabutnya beasiswa ke luar negeri yang sudah dihadapan mata, dan parahnya , lagi lagi pemerintah menggunakan alasan Penghematan. Pemerintah seakan akan tidak tahu apa kesalahan mereka.

Pendidikan indonesia saat ini cenderung seperti tumbuhan Venus. Membuat tertarik namun penuh jebakan mematikan. Para orang tua seakan akan berfikir bahwa cara satu satunya untuk membuat keturunannya sukses hanyalah harus menempuh pendidikan formal. Hal itu memang kelihatan baik dan manis, namun hal itu hanyalah jebakan semata. Siswa sdiharuskan untuk menempuh suatu sistem pendidikan formal selama 12 tahun. 

Di Indonesia, Seseorang diharuskan menempuh pendidikan formal 12 tahun yang terdiri dari, SD (6 tahun), SMP (3 Tahun),SMA(3 Tahun). Jika kurikulum Pendidikan Indonesia sudah sangat baik, mungkin hal itu tidak menjadi masalah. Namun jika Kurikulum kita seperti saat ini, tak menentu antara KTSP dan 2013, dan para SDM nya tidaklah mengerti mengenai maksud dari kurikulum. Hmmmm, saya tak bisa membayangkannya.

Dalam sistem pendidikan kita, siswa dituntut untuk menguasai banyak mata pelajaran sekaligus dengan waktu hanya 1-3 jam pelajaran /Mapel/Minggu. Hal itu akan membuat ilmu yang diperoleh siswa tidaklah dapat menyambung satu sama lain dikarenakan yang dipelajarinya sangatlah banyak sehingga siswa tidak terfokus. Jika saja pendidikan menengah Indonesia hanya terfokus pada sekitar 2-5 Mata pelajaran saja yang membuat siswa hanya mempelajari 1 Pelajaran per hari, hal itu dapat membuat siswa benar-benar menguasai apa yang dipelajarinya, mendalaminya, dan benar-benar paham ilmu yang dimilikinya, bukan sekedar menghapal seperti sistem pendidikan Indonesia saat ini. Dan yang lebih penting dan sangat penting, siswa dapat mengimplementasikan ilmunya kedalam kehidupan sehari hari, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, mengajarkannya, dan dapat berdiskusi serta memecahkan masalah dengan baik. Bukan seperti saat ini yang dimana siswa dipaksa mempelajari banyak bidang disiplin yang hanya sekedar menghapalkannya, tidak bermanfaat, dan cenderung tidak berguna karena banyak dari yang dipelajarinya di sekolah tidak digunakan lagi hingga dunia kerja. Contohnya : Saat seorang siswa menduduki SMA, dia mempelajari 14 bidang disiplin, namun ketika kuliah, dia memilih jurusan Teknik Informatika dan bekerja di perusahaan teknologi informasi. Jika kita perhatikan, siswa tersebut mempelajari 14 bidang disiplin ketika dia SMA, namun ketika mengikuti pendidikan S1, dia memilih jurusan Teknik Informatika yang sama sekali tidak dipelajarinya saat SMA, dan lagi lagi ketika dia bekerja, dia bekerja di perusahaan teknologi informasi. Yang Berarti  SISWA TERSEBUT HANYA MENGHABISKAN WAKTU DAN ENERGI SELAMA 12 TAHUN YANG SANGATLAH SIA SIA (namun tak sepenuhnya), MEMPELAJARI 14 BIDANG DISIPLIN NAMUN TIDAK ADA YANG BERGUNA, SUNGGUH SIALNYA SISWA TERSEBUT LAHIR DI INDONESIA.

BERSAMBUNG.............

0 komentar:

Post a Comment

Feel Free to Comment, ada pertanyaan atau sekedar mau ngomong ? langsung aja tulis di komentar